Sehubungan dengan adanya surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia RI tentang Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan Terhadap Flu Burung dan lnfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), PMI Pusat menghimbau PMI Provinsi dan Kabupaten/Kota wilayah untuk memantau perkembangan situasi dan informasi terkait kejadian ISPA/Pneumonia/Flu Burung melalui kanal resmi pemerintah dan WHO.
PMI setempat juga dihimbau agar berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan/Pertanian, Bidang Kesehatan Hewan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap Flu Burung dan ISPA.
“Kami juga menghimbau agar PMI menggerakkan relawan untuk melakukan promosi kesehatan tentang flu burung dan ISPA ke Masyarakat, termasuk juga melakukan surveilans berbasis Masyarakat” kata Sekretaris Jenderal PMI, A.M. Fachir.
Dengan surveilans berbasis Masyarakat atau SBM, relawan PMI diharapkan dapat menggerakkan masyarakat agar dapat melapor dan merujuk orang yang sakit ke Puskesmas atau rumah sakit jika menemukan tanda dan gejala ISPA seperti demam, batuk, pilek dan sulit bernapas.
“Selain melapor jika ada gejala sakit pada masyarakat, masyarakat atau relawan PMI juga dapat melapor ke PMI lewat sistem SatuSBM atau ke Pusat kesehatan hewan (Puskeswan) jika ada unggas yang sakit atau mati mendadak,” kata Eka Wulan Cahyasari, Kepala Divisi Kesehatan dan Sosial PMI Pusat.
ISPA merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas dan bawah, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi virus. Di Indonesia, beberapa virus yang ditemukan sebagai penyebab ISPA antara lain subtipe virus influenza musiman dan virus influenza yang dapat menyebabkan flu burung.
Indonesia merupakan daerah endemis Flu Burung pada unggas, meskipun tidak ditemukan kasus pada manusia. Potensi penularan ke manusia cukup tinggi, hal ini karena flu burung merupakan penyakit: zoonosis dimana penularan penyakit dari hewan ke manusia bisa terjadi.
Selain virus flu burung yang menginfeksi manusia, ISPA juga dapat disebabkan oleh pathogen lain seperti Human Metapneumoniavirus (HMPV). Virus ini sedang menjadi perhatian dunia akibat adanya peningkatan kasus di China. Berdasarkan laporan dari National Surveillance of Acute Respiratory Infectious Diseases di China pada tahun 2024, terjadi peningkatan kasus ISPA yang disebabkan oleh infeksi HMPV.
lnformasi Kementerian Kesehatan RI, HMPV berbeda dengan COVID-19. HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia. Mengingat dua jenis virus tersebut memiliki tanda gejala yang sama apabila menginfeksi manusia (seperti demam, batuk, pilek dan sulit bernapas) dan belajar dari pengalaman COVID-19, potensi penularan virus antar negara dapat terjadi dengan sangat cepat mengikuti arus mobilitas penduduk, sehingga potensi transmisi lokal juga dapat terjadi.
